JAKARTA - Keamanan nasional bukan sekadar persoalan kekuatan alutsista atau jumlah personel, melainkan tentang seberapa erat hubungan antara negara dengan rakyatnya. Narasi ini menjadi inti dari pertemuan strategis di jantung pemerintahan. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memaparkan arahan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat rapat pimpinan TNI-Polri di Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam forum tersebut, ditegaskan bahwa di tengah ketidakpastian dunia, fondasi pertahanan yang paling utama adalah kemanunggalan antara aparat dengan masyarakat.
Tito menyebut pesan utama Presiden berkaitan dengan pentingnya menjaga keamanan dan pertahanan di tengah dinamika geopolitik. Hal ini krusial mengingat posisi strategis Indonesia di kancah global yang terus menghadapi tantangan kompleks. "Tapi yang jelas tadi, dibuka oleh Bapak Presiden, pengarahan secara umum yang intinya beliau untuk menjaga situasi keamanan, ketertiban, juga pertahanan negara, geopolitik ya, yang mungkin nggak jauh beda dengan pada waktu rapat koordinasi nasional di Sentul yang lalu," kata Tito di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Visi Presiden Prabowo Mengenai Kekuatan Berbasis Kepercayaan Rakyat
Dalam arahannya, Presiden menekankan bahwa postur pertahanan tidak boleh hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga sisi psikologis dan sosial. Selain itu, kata Tito, Presiden juga menyoroti perlunya setiap unsur memperkuat postur pertahanan nasional demi menjamin stabilitas negara. Perkuatan ini harus dilakukan secara komprehensif agar Indonesia memiliki daya gentar yang signifikan terhadap potensi ancaman dari luar maupun gangguan dari dalam.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kekuatan bangsa turut ditentukan oleh besarnya kepercayaan masyarakat kepada negara. Tanpa dukungan publik, instrumen keamanan negara akan kehilangan legitimasi dan efektivitasnya. "Ya intinya agar masing-masing memperkuat postur pertahanan dan juga ada hal yang sangat penting sekali disampaikan tadi bahwa kekuatan bangsa ini terletak pada trust rakyat ya, kepada negara," ujarnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bagi seluruh jajaran pimpinan bahwa integritas adalah modal utama dalam menjalankan tugas negara.
Filosofi Tentara Rakyat dan Polisi Rakyat dalam Menjaga Marwah Negara
Sebagai mantan Panglima TNI dan Kapolri, baik Presiden maupun Mendagri memahami bahwa kedekatan emosional antara aparat dan rakyat adalah kunci stabilitas. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengingatkan agar TNI benar-benar hadir sebagai tentara rakyat dan Polri menjalankan peran sebagai polisi bagi masyarakat. Konsep ini bukan sekadar slogan, melainkan instruksi kerja agar setiap tindakan lapangan selalu berorientasi pada perlindungan dan pengayoman warga.
"Jadi TNI dan Polri pun harus menjadi.... TNI harus menjadi tentara rakyat, polisi pun harus menjadi polisi rakyat," ujar Tito mengulangi taklimat Presiden. Penekanan ini diharapkan dapat meningkatkan citra institusi di mata dunia internasional sekaligus memperkokoh ketahanan nasional dari akar rumput. "Artinya TNI yang didukung oleh rakyat, dicintai oleh rakyat, dan Polri yang didukung dan dicintai oleh rakyat juga, pasti akan kuat. Kira-kira gitu," lanjut Tito.
Rapat Pimpinan Tahunan: Evaluasi Kerja dan Proyeksi Keamanan 2026
Agenda di Istana Kepresidenan ini merupakan puncak dari rangkaian evaluasi strategis tahunan kedua institusi keamanan tersebut. Sebelumnya, rapat pimpinan TNI-Polri berlangsung di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin mulai pukul 10.00 WIB. Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo memberikan taklimat langsung kepada jajaran pimpinan kedua institusi untuk memastikan keselarasan langkah antara visi politik pemerintah dengan implementasi teknis di lapangan.
KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak menyebut rapat tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang membahas evaluasi kinerja selama satu tahun terakhir. Melalui evaluasi ini, TNI dan Polri dapat memetakan kelebihan dan kekurangan dalam menjalankan tugas selama setahun ke belakang, sekaligus merancang strategi menghadapi tahun 2026 yang diprediksi masih diwarnai oleh tantangan ekonomi dan keamanan global yang dinamis.
Kehadiran Tokoh Kunci Kabinet Merah Putih dalam Rapim Strategis
Pentingnya pertemuan ini juga terlihat dari jajaran menteri yang hadir untuk mendampingi Presiden, menunjukkan sinergi lintas kementerian dalam mendukung kebijakan pertahanan. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 650 peserta yang berasal dari unsur TNI, Polri, serta sejumlah menteri terkait. Sinergi ini diperlukan agar kebijakan pertahanan tidak berjalan di ruang hampa, melainkan didukung oleh penguatan diplomasi, politik, dan administrasi dalam negeri.
Beberapa anggota Kabinet Merah Putih yang tampak hadir antara lain Menko Polkam Djamari Chaniago, Wamenko Polkam Lodewijk, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Wamenhan Donny Ermawan, Mendagri Tito Karnavian, Mensesneg Prasetyo Hadi, Kepala BRIN Herindra, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kehadiran para pejabat tinggi ini menegaskan bahwa agenda stabilitas keamanan negara merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan koordinasi tanpa sekat birokrasi demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat dan dicintai rakyatnya.