JAKARTA - Menghadapi cicilan rumah yang tiba-tiba melonjak akibat suku bunga mengambang (floating) seringkali menjadi momok bagi para debitur. Di tengah situasi ekonomi yang dinamis pada awal 2026 ini, opsi pengalihan kredit atau take over KPR muncul sebagai "penyelamat" bagi masyarakat yang mendambakan stabilitas finansial. Fenomena ini ditangkap secara jeli oleh PT Bank Danamon Indonesia Tbk sebagai peluang untuk memperkuat portofolio pembiayaan perumahan mereka.
Stabilitas Portofolio di Tengah Fluktuasi Bunga
Meskipun industri perbankan secara umum dibayangi oleh tantangan suku bunga KPR yang relatif tinggi, Bank Danamon berhasil membuktikan resiliensi produk mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan portofolio KPR di bank ini tetap berada di jalur positif. Hal ini menunjukkan bahwa strategi penawaran bunga yang kompetitif mampu menarik minat nasabah, baik nasabah baru maupun mereka yang melakukan migrasi kredit.
Enriko Sutarto, Consumer Lending Business Head Bank Danamon, mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir, perseroan secara konsisten mencatatkan pertumbuhan KPR. Meski tidak merinci angka pertumbuhan secara mendetail, tren positif ini dianggap sebagai indikator kuatnya posisi Danamon di pasar.
"Hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap produk dan layanan KPR yang ditawarkan bank Danamon," ujar Enriko kepada kontan.co.id.
Inovasi Layanan sebagai Magnet Nasabah Baru
Keberhasilan Danamon dalam menggaet nasabah tidak terjadi begitu saja. Perbankan dituntut untuk lebih adaptif dalam menyediakan solusi yang tidak hanya murah, tetapi juga praktis. Enriko menekankan bahwa pertumbuhan basis nasabah baru sangat dipengaruhi oleh komitmen bank dalam menghadirkan skema pembiayaan yang relevan dengan kondisi terkini serta mudah diakses oleh publik.
Modernisasi layanan melalui kanal digital menjadi salah satu ujung tombak. Nasabah kini tidak lagi harus selalu datang ke kantor cabang untuk berkonsultasi mengenai pembiayaan rumah. Selain itu, aspek kenyamanan setelah menjadi debitur juga sangat diperhatikan oleh manajemen.
"Program loyalitas serta peningkatan kualitas layanan juga menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik KPR Danamon di tengah persaingan industri perbankan," tambah Enriko.
Fenomena Take Over: Mengejar Bunga Fixed Kembali
Daya tarik utama dari skema take over ke Bank Danamon terletak pada kemampuan bank dalam menawarkan skema bunga tetap (fixed) kembali. Bagi banyak nasabah, memasuki masa bunga floating adalah fase yang penuh ketidakpastian karena cicilan bulanan bisa naik secara signifikan mengikuti suku bunga pasar.
Kebutuhan akan biaya kredit yang lebih ringan inilah yang mendorong tren pengalihan pinjaman. Bank Danamon melihat kondisi ini bukan sebagai ancaman, melainkan peluang besar untuk memberikan struktur pembiayaan yang lebih sehat bagi masyarakat. Dengan beralih ke Danamon, nasabah berkesempatan mendapatkan kembali kepastian jumlah setoran bulanan lewat program pembiayaan yang lebih kompetitif.
Strategi Masa Depan dan Penguatan Digitalisasi
Melihat potensi pasar yang masih luas, Danamon memprediksi bahwa tren take over KPR akan terus mengalami peningkatan di masa mendatang. Untuk menyambut momentum tersebut, bank telah menyusun serangkaian rencana strategis guna memastikan mereka tetap menjadi pilihan utama masyarakat.
Fokus utama manajemen akan diarahkan pada tiga pilar: pengembangan produk KPR yang memiliki daya saing tinggi di pasar, percepatan transformasi digital untuk mempermudah aksesibilitas, serta penguatan program loyalitas agar nasabah lama tetap bertahan. Strategi ini diharapkan tidak hanya menambah jumlah debitur baru, tetapi juga menjaga kualitas kredit yang ada.
"Dengan strategi tersebut, kami optimistis dapat menjaga pertumbuhan portofolio KPR sekaligus mempertahankan kepuasan nasabah, serta memperkuat posisi perseroan sebagai mitra pembiayaan perumahan bagi masyarakat," pungkas Enriko.