JAKARTA - Menjelang lonjakan pergerakan masyarakat pada masa angkutan Lebaran 2026, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil langkah proaktif untuk menekan angka kecelakaan di jalan raya. Melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat), pemerintah secara resmi memperkuat lini pertahanan keselamatan transportasi dengan meningkatkan standar kompetensi para pengemudi angkutan pariwisata.
Langkah strategis ini diwujudkan melalui agenda bimbingan teknis (bimtek) bertajuk Safety and Defensive Driving bagi para pengemudi angkutan pariwisata. Acara tersebut diselenggarakan di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur Perhubungan, Bogor, Jawa Barat, pada Senin. Inisiatif ini dipandang krusial mengingat sektor pariwisata diprediksi akan menjadi tulang punggung mobilitas warga selama libur panjang Idul Fitri mendatang.
Komitmen Global untuk Standar Keselamatan Transportasi Darat
Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Hubdat Kemenhub, Yusuf Nugroho, menegaskan bahwa keselamatan bukan sekadar prosedur, melainkan fondasi utama dalam industri jasa transportasi. Menurutnya, sinergi antara regulator dan operator adalah kunci untuk menciptakan ekosistem perjalanan yang ideal bagi publik.
“Ini komitmen kita bersama untuk meningkatkan kualitas layanan keselamatan industri angkutan orang yang berkeselamatan,” ujar Yusuf saat membuka acara tersebut. Ia menekankan bahwa pelatihan safety driving bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan risiko di lapangan yang kian dinamis.
Melalui kegiatan ini, Kemenhub berupaya mendorong peningkatan kapasitas individu pengemudi agar mampu menghadirkan layanan angkutan pariwisata yang tidak hanya nyaman, tetapi juga aman dan tertib. Sebanyak 63 pengemudi yang bernaung di bawah bendera Persatuan Transportasi Wisata Indonesia (PTWI) menjadi garda terdepan dalam pelatihan intensif ini.
Kurikulum Komprehensif: Dari Teori Hingga Manajemen Risiko
Para peserta tidak hanya duduk mendengarkan paparan, tetapi dibekali dengan kurikulum yang dirancang untuk menjawab problematika nyata di aspal jalan. Materi yang diberikan mencakup identifikasi risiko guna mencegah terjadinya kecelakaan berulang, pemahaman mendalam mengenai teknologi kendaraan modern, hingga tata cara pemeriksaan kendaraan yang benar atau pre-trip inspection.
Yusuf menjelaskan bahwa penguasaan aspek teknis sangat berpengaruh pada keselamatan nyawa orang banyak. “Karena kita menyadari potensi risiko kecelakaan dan kejadian yang melibatkan kendaraan angkutan orang dapat berdampak serius terhadap masyarakat sebagai pengguna jalan dan operasional perusahaan angkutan orang,” tambahnya.
Selain itu, aspek defensive driving menjadi menu utama. Pengemudi diajarkan bagaimana bersikap waspada terhadap perilaku pengguna jalan lain serta cara mengantisipasi situasi berbahaya sebelum terjadi benturan. Dengan kompetensi yang mumpuni, pengemudi diharapkan mampu menjadi manajer bagi kendaraannya sendiri selama perjalanan.
Membangun Kepercayaan Publik Lewat Kualitas Layanan
Lebih jauh, Yusuf menilai bahwa investasi pada sumber daya manusia (SDM) pengemudi akan berdampak positif pada keberlangsungan bisnis transportasi itu sendiri. Ketika masyarakat merasa aman menggunakan bus pariwisata, maka loyalitas dan kepercayaan publik terhadap industri ini akan tumbuh dengan sendirinya.
“Dengan ini kita bisa bersama-sama menjaga kesinambungan usaha angkutan orang, mengedukasi untuk memberikan standar pelayanan terbaik. Sehingga pada akhirnya bisa mendapatkan kepercayaan dari publik untuk menggunakan jasa layanan angkutan orang,” kata Yusuf dengan optimisme tinggi.
Selain pembekalan teori, bimtek ini melibatkan praktik lapangan dan simulasi darurat. Pengemudi dilatih untuk mengoperasikan berbagai fitur keselamatan terbaru pada armada bus masa kini, melakukan penguasaan rute, hingga menerapkan Risk Journey Management. Metode ini memungkinkan pengemudi memetakan potensi bahaya pada jalur-jalur spesifik yang akan mereka lalui saat arus mudik maupun wisata Lebaran nanti.
Apresiasi dari Pelaku Industri Transportasi Wisata
Respons positif datang dari pihak operator. Ketua Umum PTWI, Luther Halim, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kemenhub atas inisiatif yang merangkul para praktisi di lapangan. Baginya, pengetahuan yang didapat dari bimtek ini adalah modal berharga bagi para pengemudi dalam menjalankan tugas profesional mereka.
Luther berharap semangat keselamatan ini tidak berhenti di ruang kelas, melainkan mendarah daging dalam operasional sehari-hari. Ia menekankan pentingnya menanamkan budaya keselamatan sebagai bagian dari tanggung jawab moral setiap pengemudi terhadap nyawa penumpang yang mereka bawa.
Bedah Akar Masalah Kecelakaan Menurut Investigasi KNKT
Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Sub Komite Lalu Lintas Angkutan Jalan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ahmad Wildan. Ia memberikan perspektif teknis mengenai mengapa kecelakaan masih sering terjadi meski teknologi kendaraan terus berkembang. Berdasarkan data investigasi KNKT, Wildan membedah tiga faktor utama penyebab kecelakaan di Indonesia.
Pertama adalah error by design. Hal ini berkaitan dengan kesalahan dalam pemilihan armada yang tidak sesuai dengan peruntukan medan jalan atau adanya regulasi yang kurang tepat sehingga menciptakan celah bahaya. Kedua, error by maintenance, yaitu kelalaian dalam proses perawatan rutin yang menyebabkan kegagalan fungsi komponen vital seperti rem atau ban.
Faktor ketiga, yang menjadi fokus utama bimtek kali ini, adalah error by the operation. “Masalah di pengemudi, karena tidak bugar, tidak kompeten, atau tidak disiplin,” ungkap Wildan secara lugas. Ia berharap pelatihan semacam ini dapat meminimalisir faktor kesalahan manusia (human error) yang selama ini mendominasi statistik kecelakaan jalan raya.
Harapan untuk Kolaborasi Berkelanjutan di Masa Depan
Menutup sesi, Wildan menekankan bahwa edukasi keselamatan tidak boleh menjadi agenda musiman saja. Tantangan transportasi darat yang semakin kompleks menuntut adanya kolaborasi lintas sektor yang konsisten.
"Ke depannya bimtek safety driving diharapkan bisa dilaksanakan secara berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama seluruh pihak," pungkas Wildan. Dengan adanya sinergi antara Kemenhub, KNKT, dan asosiasi seperti PTWI, diharapkan momen mudik Lebaran 2026 dapat berjalan dengan standar keselamatan yang jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sekaligus memberikan ketenangan bagi jutaan pemudik di seluruh penjuru tanah air.